BELAJAR DARI KISAH ABSALOM

(By : Dessy Ariadna – Tim Penulis Stand To JESUS)

Absalom adalah anak raja Daud, dia adalah putra tertua ketiga dari raja Daud setelah Amnon dan Kileab (2 Samuel 3:2-3). Absalom secara penampakan menurut Bible adalah sosok pria yang sangat tampan, tidak ada pria yang setampan Absalom di Israel pada zaman itu, ketampanannya bahkan dipuji-puji banyak orang.

2 Samuel 14:25 (IMB) Di seluruh Israel tidak ada yang setampan Absalom, ia sangat dipuja-puja. Dari telapak kaki sampai ujung kepala, tidak ada cela padanya.

Hanya saja di balik itu semua Absalom menyimpan banyak sekali kepahitan di dalam hatinya, berawal dari dendamnya kepada kakak tertuanya Amnon yang telah tega memperkosa adik kandung Absalom yaitu Tamar. Absalom berhasil membalaskan dendamnya kepada Amnon disaat raja Daud sendiri tidak bisa menghukum Amnon atas perbuatannya yang jahat, lantaran Amnon adalah anaknya.

Kendati sudah membalaskan dendamnya kepada Amnon, Absalom tetap tidak bisa move on, dia malah menyimpan kepahitan kepada ayahnya sendiri Daud, karena Daud sempat marah kepada Absalom perihal apa yang sudah Absalom lakukan kepada Amnon. Absalom tidak mau melepaskan rasa sakit hatinya sehingga dia mulai melakukan berbagai tindakan-tindakan bodoh.

Absalom mulai tidak hormat lagi kepada ayahnya Daud, dia bahkan berniat menggulingkan ayahnya dari tahta dan memahkotai dirinya sendiri menjadi raja. Padahal Daud sangat mengasihi Absalom, tetapi karena kurang baiknya komunikasi diantara ayah dan anak ini, dan tidak adanya pengampunan dan pemberesan dalam hati Absalom menyebabkan dia jatuh akibat sakit hati yang selalu disimpannya. Bukannya semakin naik, Absalom malah justru jatuh akibat kebodohannya dan kejahatannya sendiri.

2 Samuel 18:32-33 (IMB) Raja bertanya kepada orang Etiopia itu, “Apakah Absalom, orang muda itu selamat? ” Orang Etiopia itu menjawab, “Semua musuh tuanku raja dan orang-orang yang bangkit melawanmu untuk melakukan suatu kejahatan akan menjadi seperti orang muda itu. ” Raja menjadi gemetar dan terkejut lalu naik ke ruangan atas pintu gerbang itu dan meratap sambil berjalan, “Anakku! Absalom anakku, anakku Absalom! Seandainya aku saja yang mati menggantikanmu, Absalom, Absalom anakku. “

Jika saja Absalom mau melepaskan semua rasa sakit hati dan kepahitannya dan berdamai dengan masa lalunya dan tidak memusuhi ayahnya yang sangat mengasihi dia, tentunya nasib Absalom akan jauh lebih baik. Terus menyimpan kepahitan dan sakit hati pada akhirnya hanya membuat Absalom semakin turun dan bukan naik, ini juga menjadi pelajaran bagi kita agar tidak meniru apa yang dilakukan oleh Absalom, menyimpan kepahitan dan sakit hati dan tidak mau melepaskannya sama saja dengan merugikan diri sendiri dan bisa menjadi bom waktu yang mengarahkan orang yang bersangkutan melakukan hal-hal bodoh yang tidak seharusnya dilakukan.

Firman Tuhan berkata jagalah hati, jika kita menjaga hati dan tidak membiarkan hati kita dikuasai oleh iri, dengki, kepahitan, sakit hati dan sampah-sampah lainnya, maka kehidupan kita akan jauh lebih bahagia dan lebih baik, tidak ada yang menganjal dihati, hanya ada damai sejahtera.

Efesus 4:31 (IMB) Buanglah segala kepahitan, amarah, murka, keributan, umpatan, dan segala kejahatan dari antara kamu.

Yakobus 3:14-16 (IMB) Namun jika kamu mempunyai iri hati, kepahitan dan mementingkan diri sendiri dalam hatimu, maka janganlah bermegah dan berdusta melawan kebenaran. Itu bukanlah hikmat yang turun dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia dan dari setan. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di sana ada kekacauan dan segala perbuatan jahat.

Amsal 4:23 (TB) Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

TUHAN YESUS MEMBERKATI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 − 3 =